0


Ma’had Al-Zaytun tak bisa dilepaskan dari NII; bahkan dari DI/TII sebagai awalan dari NII. Dalam Bab I sudah dipaparkan hubungan antara Ma’had dan NII. Ternyata sejak pendiriannya, Ma’had ini diprakarsai oleh orang-orang NII, didanai dan dikerjakan pemba -ngunannya oleh jamaan pengajian NII serta pengelolanya juga adalah tokoh-tokoh NII. Begitu juga para santrinya sebagian dari anak-anak NII disamping dari orang-orang luar NII.

Jika ditelusuri hingga ke awal adanya DI/TII dengan tokohnya Kartosoewirjo maka tak pelak bisa dikatakan bahwa pemba -ngunan Ma’had ini merupakan kelanjutan realisasi dari gagasan (ide) sang Imam pertama DI. Sebagaimana ditunjukkan dalam Bab III, Kartosoewirjo bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia, (NII). Ia menilai pada umumnya masyarakat Indonesia belum mengenal Islam, sehingga sulit mengajak manusia Indonesia untuk hijrah; hijrah dari “Mekah Indonesia” ke “Madinah Indonesia”, dalam bentuk NII tersebut. Oleh karena itu terlebih dahulu masyarakat Indonesia harus dididik mengenai ke-Islamannya. Kemudian, Kartosoewirjo mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Institut Suffah. Lembaga inilah yang menjadi aset awal bagi terwujudnya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia di kemudian hari. Sebagaimana sudah dipaparkan, dalam lembaga ini Kartosoewirjo terjun langsung mendidik para siswa dengan metode pengajaran dan pendidikan yang pernah diterapkan HOS Cokroaminoto, yakni para siswa di samping dibekali dengan pengajaran pengetahuan umum dan pendidikan agama Islam, juga dididik dalam bidang politik. Ada dua target yang hendak dicapai melalui lembaga pendidikan ini. Pertama, membentuk kader-kader militan (mujahid) yang kuat aqidah dan menguasai ilmu agama Islam, sehingga akhirnya mampu mengge -rakkan jihad fi sabilillah untuk menumbangkan dominasi penguasa zalim dalam rangka menegakkan daulah Islamiyah. Kedua, mengondisikan suatu masyarakat yang Islami, mulai dari pengenalan dan penerapan nilai serta sistem hidup yang Islami bagi setiap pribadi, dan penanaman ruh jihad. Sebab jihad merupakan tindak lanjut hijrah. Oleh sebab itu hijrah tidak dianggap sah bila tidak diiringi dengan jihad.

Dengan mengembangkan sejarahnya sendiri, bahwa Ma’had Al-Zaytun didirikan atas hasil renungan di Multzam oleh sekelompok tokoh NII serta hasil diskusi sekelompok mahasiswa ITB mengenai masa depan ummat Islam, bisa jadi pembentukan wacana seperti itu dilakukan untuk menutupi kecurigaan masyarakat mengenai hubungan Ma’had dengan NII. Tetapi dengan menelusuri sejarah gerakan NII yang mengalami pasang naik dan pasang surut, juga dalam hal gagasan, doktrin, kontinuitas para tokohnya, hingga berdirinya Ma’had, maka sukar dibantah jika Ma’had yang bercita-cita membentuk lulusannya yang basthotan fil ilmi wal-jism ada keterkaitan dengan NII. Cita-cita Kartosoewirjo jelas terlihat dalam Ma’had Al-Zaytun.

Dengan kata lain, pendirian Al-Zaytun di satu sisi merupakan kelanjutan ide DI/TII dalam mewujudkan NII (perspektif historis), di sisi lain Ma’had ini juga merupakan salah satu instrumen gerakan keagamaan dari NII (perspektif religious movement). Jadi dari segi kesejarahan ini, ada dua dimensi DI/TII/NII sekaligus dalam Al-Zaytun: berlanjutnya ide pendirian NII (history of ide) dari DI/TII yang merupakan bagian dari gerakan keagamaan (religous movement) orang-orang DI/TII menuju Madinah Indonesia.

Dari perspektif kesejarahan, para pemrakarsa dan pelaksana Al-Zaytun merupakan penerus gagasan Institut Suffah-nya DI/TII. Ternyata pemikiran untuk mewujudkan NII melalui jalur pendidikan Al-Zaytun adalah kelanjutan dari history of thought, history of ideas, atau intellectual history tokoh-tokoh DI/TII dalam hal ini Kartosoewirjo. Menyesuaikan dengan jamannya, memang pendirian Ma’had Al-Zaytun tidak hanya dipengaruhi pemikiran Kartosoewirjo, melainkan juga dipengaruhi oleh pemikiran Syekh AS Panji Gumilang dan teman-temannya. Jadi disamping memiliki aktualitasnya sendiri, kehadiran al-Zaytun memiliki dimensi-dimensi pertama teks, yang terdiri dari (1) genesis pemikiran, (2) konsistensi pemikiran, (3) evolusi pemikiran, (4) sistematika pemikiran, (5) perkembangan dan perubahan, (6) varian pemikiran, (7) komunikasi pemikiran, dan (8) internal dialectics dan kesinambungan pemikiran, serta intertekstualitas yang berhubungan dengan DI/TII/NII; Kedua, konteks yang terdiri dari; (1) konteks sejarah, (2) konteks politik, (3) konteks budaya, dan (4) konteks social, yang melingkupi pergerakan DI/TII/NII. Ketiga, hubungan antara teks dan masyarakat, yang meliputi pengaruh pemikiran, implementasi pemikiran, diseminasi pemikiran, dan sosialisasi pemikiran yang dilakukan NII, seperti pengajian, tilawah, dan sebagainya. Seperti sudah dijelaskan, sejarah ide Ma’had Al-Zaytun dipengaruhi oleh Mabdaust Tsalasah-nya Muhammad Karim Hasan dan tentu saja ideologi Kartosoewirjo dimana pemikiran Kartosoewirjo terpengaruh oleh HOS Cokroaminoto. Selanjutnya, Cokroaminoto terpengaruh oleh pemikiran kaum pembaharu termasuk Ahmadiyah. Dengan demikian terlihat bahwa Al-Zaytun adalah sebuah gerakan keagamaan yang merupakan kelanjutan dari gerakan keagamaan sebelumnya, dalam hal ini DI/TII/NII. Sedangkan DI/TII/NII juga merupakan hasil dari sebuah pemikiran berkaitan antara modernisme dan sekaligus fundamentalisme.

By www.nii-crisis-center.com



Dikirim pada 24 Maret 2009 di Forum Komunikasi Korban NII ALZAYTUN

BAGAIMANA GERAKAN NII Al ZAYTUN MENGORGANISASI TINDAK KEJAHATAN-KRIMINALITAS
Program tindak kejahatan Gerakan NII Al Zaytun atau NII faksi komando AS Panji Gumilang adalah didasarkan pada doktrin program penggalangan dana untuk negara dan filosofi paham sesat tersebut adalah Qonun Asasi dan Qonun Uqubat NII yang dinamakan jihad dan fa’i :
Sesungguhnya seluruh harta itu pada dasarnya adalah milik Allah yang pengelolaannya diserahkan kepada pimpinan dan warga NII. Seraya mengutip ayat:

“Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shalih.”

Yang mereka maksud dengan kata hamba-hamba-Ku yang shalih di sini menurut tafsir NII adalah para aparat Negara Islam Indonesia dan seluruh warganya. Dengan pedoman tafsir NII tersebut seluruh warga NKRI pada hakekatnya memiliki derajat sama dengan binatang, untuk itu menurut hukum Nya (menurut hukum dan fiqh NII) yaitu boleh diambil susunya, diperas tenaganya, dan dimakan dagingnya (atas dasar fa’i dan tazkiyah).

Praktek pelaksanaan shalat, dzikir, tilawah, ta’lim dan tazkiyah yang sebenarnya adalah melaksanakan program negara, adapun program yang utama adalah setiap aktivitas yang dilakukan dalam rangka menghimpun dana dan merekruit atau ummat sebanyak-banyaknya untuk kepentingan membangun dan membesarkan jama’ah - Negara Islam Indonesia yang basis utamanya adalah Ma’had Al-Zaytun. Oleh karenanya dengan melalui cara apapun setiap warga NII Al Zaytun wajib mengambil kembali seluruh harta Allah yang ada di tangan orang-orang kafir NKRI dengan melalui fa’i, sekaligus dengan dasar keyakinan yang bertujuan untuk membersihkan mereka dari dosa, sehingga suatu saat kelak pada akhirnya mereka mudah dan bersedia untuk menerima seruan untuk masuk serta bergabung dengan NII.

Karenanya perilaku menipu, mencuri hingga sampai membunuh pun terhadap setiap kalangan di luar NII selain telah dianggap kafir dan berderajat binatang adalah karena dianggap sebagai salah satu bagian dari modus fa’i (mengambil hak secara paksa) belaka. Pada hakekatnya tindakan kriminal seperti itu diyakini komunitas NII sebagai praktek ibadah kepada Allah dan bentuk pengabdian kepada negara yang sebenarnya.

Dikirim pada 24 Maret 2009 di Prpaganda NII AL-ZAYTUN

Toko Buku

Kami menyediakan berbagai Buku Aliran Sempalan
Di Indonesia
Diantaranya :
Infestigasi Mega Proyek AL-ZAYTUN SESAT
membongkar gerakan sesat NII dibalik pesantren
mewah AL-ZAYTUN
Penyimpangan dan Kesesatan ALaytun
Bunker AL-ZAYTUN


Kami juga menyediakan VCD dan DVD

Documenter


video kesaksian mantan aktifis NII AL-ZAYTUN
video kesaksian mantan Santri AL-ZAYTUN
video kesaksian orang tua korban NII AL-ZAYTUN
Rekaman dari berbagai Media Televisi
Hubungi : ( 021) 95641276



Dikirim pada 24 Maret 2009 di Forum Komunikasi Korban NII ALZAYTUN


SYAYKH A.S.PANJI GUMILANG REKAYASA DPT FIKTIF

PANWASLU SIAGA SATU SIAP TANGKAP WARGA NII KW-9 AL-ZAYTUN

Masih ingatkah anda dengan mobilisasi masa teritorial NII KW9 ke Ma’had Al Zaytun pada Juli 2004
saat PILPRES Putaran Pertama untuk memuluskan Jenderal TNI ‘Thogut’ WIRANTO.
Pasca kejadian tersebut ribuan aparat dan jama’ah NII KW9 ‘murtad’ dari NII KW9.
Mereka tersadarkan bahwa FUTTUH NII yang dijanjikan cuma dijadikan ‘Kuda Troya’ aparatur intelejen NKRI. Kalaupun hal ini terulang belum tentu menyadarkan warga-jama’ah NII KW9,
karena Doktrin & Sistem Pengamanan Internal Warga sudah semakin disempurnakan.
Kesalahan dan kebocoran pada masa lalu jadi pelajaran berharga bagi Sang Syakh untuk selalu menyesatkan Generasi Muda Islam dengan Kedok NII.
Tulisan ini hanya sekedar ‘Tausiyah & Silaturahmi’

Kini 5 tahun berlalu Abu Toto belajar tidak mengulangi kesalahan sejaran di Pilpres Juli 2004. Sang Syaykh yang dapat Order Tim Sukses Pemilu dari Empat Serangkai ORBA “GOLKAR-PKPB-REPUBLIKAN-HANURA” mencoba meniru sukses PILKADA JATIM. Pasca ASA keliling Jawa akhir tahun lalu menginspirasikan Sang Syaykh untuk memanipulir DPT (Daftar Pemilih Tetap) pada Pilkada & Pemilu 2009. Bayaranpun sudah diterima, puluhan milyar sudah mengalir ke rekening Sang Syaykh di Bank Century. Sedangkan di teritorial Sang Syaykh menginstruksikan mobillisasi masa dan jama’ah teritorial NII dengan dana dan kemampuan jama’ah. Artinya Sang Syaykh gak perlu susah mengeluarkan koceknya sendiri. (Duit Proyek UTUH)

Masya Allah, manipulasi DPT Pilgub Jawa Timur TERBONGKAR! Gak tanggung-tanggung Kapolda Jawa Timurnya sontak MUNDUR karena protes di intervensi Mabes Polri. KPU pun dihujat habis menyoal DPT Fiktif yang melebihi hampir 20 % Suara Rakyat. Publikpun menggugat ‘jangan-jangan’ DPT ditiap propinsipun dimark-up juga. Bahkan ada yang minta PEMILU DITUNDA hingga persoalan DPT tuntas.

Sekarang ini kubu Syaykhul Ma’had terguncang. Sejumlah DPT dikantong-kantong caleg-caleg yang akan dipilih oleh ‘gerombolan NII KW-9′ pastinya akan diteliti ulang. Adapun skenario pengiriman 10 - 20 orang jama’ah NII ke TPS-TPS didaerah seputar caleg yang dijagokan di ‘Golkar-PKPB-Republikan-Hanura’ sesuai dengan quota 2 % batas yang masih dibolehkan aturan di KPU Pusat dari jumlah 500 - 600 orang per TPS bakal menjadi andalan. Memang ‘cerdik’ juga Sang Syaykh yang pernah menjadi operator ‘cendana’ diera keemasan Rezim Soeharto ini. Sang Syaykh mencoba mengakali aturan yang penuh dengan celah kelemahan hukum ini. Namun perlu diingatkan Banwaslu sebagai satu-satunya Pihak yang punya OTORITAS mengawasi Pemilu sudah pasang perangkap. Kini mulai dari hulu hingga hilir aliran mobilisasi masa NII KW-9 sudah ‘digambar’ alias dipetakan. Daerah seperti Bekasi, Banten X, Indramayu-Bekasi, Gresik dan sekitar Yogyakarta dan Lampung sudah diberi lampu merah. Tinggal menunggu umpan datang.

Saud Sirait anggota Banwaslu ketika dikonfirmasikan hal ini oleh Tim Buser SIKAT menyatakan,”Biarkan aja mereka, kita sudah siapkan perangkap!” Perlu diingatkan oleh seluruh jama’ah dan aparat territorial NII, bahwa salah satu pelanggaran berat pemilu adalah ‘adanya upaya ingin merubah Dasar Negara Pancasila & UUD 1945, mempersoalkan NKRI dan menyebarkan rasa kebencian dan permusuhan’ Maka ‘SKAK MATI’ bila Aparat NII KW9 NEKAD masuk TPS-TPS tersebut.

Patut dipertanyakan bahwa Sang Syaykh bakal NEKAD menerobos aturan tersebut. Mungkin ia mengira bakal ‘lolos jerat hukum’ setelah sukses menggelembungkan suara di Al Zaytun 5 Juli 2004 lalu hingga 24.000 orang. Bedanya dulu Sang Syaykh hanya mengolah suara tersebut cuma di satu titik TKP diMa’had Al Zaytun, Indramayu - Jawa Barat. Lalu bagaimana bila terjadinya dihampir seluruh TPS-TPS diwilayah DAPIL-DAPIL caleg jagonya NII KW-9 yang tersebar di Empat partai ‘Golkar-PKPB-REPUBLIKAN-Hanura’ Apa gak jadi bulan-bulanan 10 - 20 orang jama’ah NII dipelosok TPS-TPS tersebut.

Informasi mutakhir bahwa Tim-Tim Sukses akan menyebar jama’ah teritorial NII KW9 1 - 2 hari yakni H-2 sebelum Pemilu 9 April 2009. Mereka akan mengambil dan mendaftarkan sebagai pendatang pada pengisian Formulir 5 diluar DPT yang ada ditiap TPS-TPS. Para jama’ah NII KW9 dengan dibekali KTP dan Kartu Pemilih Tetap sejak pagi-pagi sekali akan menyerbu masing-masing TPS untuk daftar ulang dengan alasan tidak dapat memilih ditempat domisili ataupun tempat asal terdaftar pemilih. Pastinya mereka akan memilih jagonya sesuai dengan Perintah Umum Sang Syaykh sebagai PENERIMA ORDER. Disinilah ‘Sepandai-pandainya TUPAI MELONCAT akan TERJERAT juga’
Tunggu Tanggal mainnya!!!

PEMANTAU PEMILU
TIM SUKSES ALIRAN SESAT
(NII KW9-LDII-AHMMADIYAH)

Bekerjasama dengan

Tim BUSER SIKAT Dan NCC



Dikirim pada 23 Maret 2009 di Forum Komunikasi Korban NII ALZAYTUN
Awal « 1 2 » Akhir


connect with ABATASA