0
Dikirim pada 24 Maret 2009 di Forum Komunikasi Korban NII ALZAYTUN

Ma’had Al-Zaytun tak bisa dilepaskan dari NII; bahkan dari DI/TII sebagai awalan dari NII. Dalam Bab I sudah dipaparkan hubungan antara Ma’had dan NII. Ternyata sejak pendiriannya, Ma’had ini diprakarsai oleh orang-orang NII, didanai dan dikerjakan pemba -ngunannya oleh jamaan pengajian NII serta pengelolanya juga adalah tokoh-tokoh NII. Begitu juga para santrinya sebagian dari anak-anak NII disamping dari orang-orang luar NII.

Jika ditelusuri hingga ke awal adanya DI/TII dengan tokohnya Kartosoewirjo maka tak pelak bisa dikatakan bahwa pemba -ngunan Ma’had ini merupakan kelanjutan realisasi dari gagasan (ide) sang Imam pertama DI. Sebagaimana ditunjukkan dalam Bab III, Kartosoewirjo bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia, (NII). Ia menilai pada umumnya masyarakat Indonesia belum mengenal Islam, sehingga sulit mengajak manusia Indonesia untuk hijrah; hijrah dari “Mekah Indonesia” ke “Madinah Indonesia”, dalam bentuk NII tersebut. Oleh karena itu terlebih dahulu masyarakat Indonesia harus dididik mengenai ke-Islamannya. Kemudian, Kartosoewirjo mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Institut Suffah. Lembaga inilah yang menjadi aset awal bagi terwujudnya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia di kemudian hari. Sebagaimana sudah dipaparkan, dalam lembaga ini Kartosoewirjo terjun langsung mendidik para siswa dengan metode pengajaran dan pendidikan yang pernah diterapkan HOS Cokroaminoto, yakni para siswa di samping dibekali dengan pengajaran pengetahuan umum dan pendidikan agama Islam, juga dididik dalam bidang politik. Ada dua target yang hendak dicapai melalui lembaga pendidikan ini. Pertama, membentuk kader-kader militan (mujahid) yang kuat aqidah dan menguasai ilmu agama Islam, sehingga akhirnya mampu mengge -rakkan jihad fi sabilillah untuk menumbangkan dominasi penguasa zalim dalam rangka menegakkan daulah Islamiyah. Kedua, mengondisikan suatu masyarakat yang Islami, mulai dari pengenalan dan penerapan nilai serta sistem hidup yang Islami bagi setiap pribadi, dan penanaman ruh jihad. Sebab jihad merupakan tindak lanjut hijrah. Oleh sebab itu hijrah tidak dianggap sah bila tidak diiringi dengan jihad.

Dengan mengembangkan sejarahnya sendiri, bahwa Ma’had Al-Zaytun didirikan atas hasil renungan di Multzam oleh sekelompok tokoh NII serta hasil diskusi sekelompok mahasiswa ITB mengenai masa depan ummat Islam, bisa jadi pembentukan wacana seperti itu dilakukan untuk menutupi kecurigaan masyarakat mengenai hubungan Ma’had dengan NII. Tetapi dengan menelusuri sejarah gerakan NII yang mengalami pasang naik dan pasang surut, juga dalam hal gagasan, doktrin, kontinuitas para tokohnya, hingga berdirinya Ma’had, maka sukar dibantah jika Ma’had yang bercita-cita membentuk lulusannya yang basthotan fil ilmi wal-jism ada keterkaitan dengan NII. Cita-cita Kartosoewirjo jelas terlihat dalam Ma’had Al-Zaytun.

Dengan kata lain, pendirian Al-Zaytun di satu sisi merupakan kelanjutan ide DI/TII dalam mewujudkan NII (perspektif historis), di sisi lain Ma’had ini juga merupakan salah satu instrumen gerakan keagamaan dari NII (perspektif religious movement). Jadi dari segi kesejarahan ini, ada dua dimensi DI/TII/NII sekaligus dalam Al-Zaytun: berlanjutnya ide pendirian NII (history of ide) dari DI/TII yang merupakan bagian dari gerakan keagamaan (religous movement) orang-orang DI/TII menuju Madinah Indonesia.

Dari perspektif kesejarahan, para pemrakarsa dan pelaksana Al-Zaytun merupakan penerus gagasan Institut Suffah-nya DI/TII. Ternyata pemikiran untuk mewujudkan NII melalui jalur pendidikan Al-Zaytun adalah kelanjutan dari history of thought, history of ideas, atau intellectual history tokoh-tokoh DI/TII dalam hal ini Kartosoewirjo. Menyesuaikan dengan jamannya, memang pendirian Ma’had Al-Zaytun tidak hanya dipengaruhi pemikiran Kartosoewirjo, melainkan juga dipengaruhi oleh pemikiran Syekh AS Panji Gumilang dan teman-temannya. Jadi disamping memiliki aktualitasnya sendiri, kehadiran al-Zaytun memiliki dimensi-dimensi pertama teks, yang terdiri dari (1) genesis pemikiran, (2) konsistensi pemikiran, (3) evolusi pemikiran, (4) sistematika pemikiran, (5) perkembangan dan perubahan, (6) varian pemikiran, (7) komunikasi pemikiran, dan (8) internal dialectics dan kesinambungan pemikiran, serta intertekstualitas yang berhubungan dengan DI/TII/NII; Kedua, konteks yang terdiri dari; (1) konteks sejarah, (2) konteks politik, (3) konteks budaya, dan (4) konteks social, yang melingkupi pergerakan DI/TII/NII. Ketiga, hubungan antara teks dan masyarakat, yang meliputi pengaruh pemikiran, implementasi pemikiran, diseminasi pemikiran, dan sosialisasi pemikiran yang dilakukan NII, seperti pengajian, tilawah, dan sebagainya. Seperti sudah dijelaskan, sejarah ide Ma’had Al-Zaytun dipengaruhi oleh Mabdaust Tsalasah-nya Muhammad Karim Hasan dan tentu saja ideologi Kartosoewirjo dimana pemikiran Kartosoewirjo terpengaruh oleh HOS Cokroaminoto. Selanjutnya, Cokroaminoto terpengaruh oleh pemikiran kaum pembaharu termasuk Ahmadiyah. Dengan demikian terlihat bahwa Al-Zaytun adalah sebuah gerakan keagamaan yang merupakan kelanjutan dari gerakan keagamaan sebelumnya, dalam hal ini DI/TII/NII. Sedangkan DI/TII/NII juga merupakan hasil dari sebuah pemikiran berkaitan antara modernisme dan sekaligus fundamentalisme.

By www.nii-crisis-center.com



Dikirim pada 24 Maret 2009 di Forum Komunikasi Korban NII ALZAYTUN
comments powered by Disqus


connect with ABATASA